POTRET KOTA JAKARTA YANG IRONIS “Pembelajaran dari Hujan dan Kaum Marjinal” Part Two

Gedung panti itu cukup besar untuk menampung 90 anak yang 90% di antaranya adalah yatim. Dengan cat hijau, rumah itu terlihat bersih dan cukup megah dari luar. Ternyata, sebagian gedung itu juga digunakan sebagai sekolah umum, ada SD dan SMP. Adapula fasilitas pendukung seperti Masjid dan lapangan upacara. Di luar, semua tampak asri dengan pepohonan rindang dan hijau. Apalagi dengan cuaca hujan,  tempat itu terlihat tenang dan teduh, karena tak banyak anak-anak yang berkeliaran diluar. Bahkan kami sempat menyimpulkan bahwa panti ini tergolong panti yang mampu.

Perbincangan dimulai di ruangan sekretariat. Ruangan yang rapih, bahkan ada fasilitas berupa komputer. Ada juga beberapa bingkai dengan foto sejumlah pengurus serta beberapa foto dengan pejabat dan orang-orang penting yang pernah berkunjung kesana. Pertama kali tentunya dengan suatu sapaan. Sapaan yang penuh malu, tapi sarat hormat dan penghargaan, senang karena ada yang berkunjung. Khamil namanya, dan kami memanggilnya mas Khamil. Masih muda, tampan dan enak dipandang. Matanya teduh dan tenang. Mas Khamil adalah seorang santri lulusan dari panti Assurur dan setelah lulus ia memutuskan membalas jasa panti ini yang telah merawatnya  dengan menjadi salah satu pengurus panti ini. Khamil menceritakan sedikit latar belakangnya di mana keluarganya tak cukup mampu untuk membiayai penghidupannya sehingga keluarganya memutuskan untuk menaruh ia di pesantren Assurur ini. Dia sudah ada di panti ini semenjak ia berusia sepantaran anak SMP hingga sekarang ia sudah lulus pendidikan SMA.

Mas Khamil bersama 12 orang pengurus lainnya bersama-sama berusaha menjamin 90 anak panti (60 santri dan 30 santriwati) mendapatkan penghidupan yang selayak-layaknya. Mereka memberikan edukasi formal maupun non-formal, edukasi keagamaan, pakaian, makanan, perlindungan dan yang terpenting adalah kasih. Merangkul. Satu kata dari visi didirikannya panti ini. Visi yang agung, bahwa mereka ingin merangkul kaum-kaum marginal sekalipun mereka pun bukan orang yang terangkul. Dengan saling merangkul, bahu membahu, mereka berharap dapat lebih kuat dan lebih bermanfaat di dalam hidup mereka.

Mas Khamil pun melanjutkan banyak hal-hal menyenangkan yang ia alami. Beberapa artis dan pejabat pernah berkunjung, menapakkan kaki mereka di tempat kaum dhuafa, menyempatkan diri mereka untuk sekedar menengok, berbagi nikmat dan mengingatkan mereka bahwa betapa tinggi mereka telah jauh melesat, masih ada kaum-kaum marjinal yang memerlukan uluran tangan mereka. Setidaknya, tangan mereka lebih kuat, lebih kokoh dan “berkualitas” untuk merangkul.

Setelah sedikit banyak bertanya jawab, kami meminta izin untuk masuk ke gedung hijau itu, masuk lebih dalam ke kehidupan sebenarnya di panti ini. Kami ingin melewati gerbang kantor secretariat yang nyaman itu, kami ingin menyentuh apa yang sebenarnya ada di dalam sana. Syukur karena kami diperbolehkan untuk masuk ke dalam, meskipun hanya mengunjungi kamar para santri. Ya Tuhan, betapa benar kata pepatah, “don’t judge the book by its cover”. Ketika sudah menapakkan kaki di dalam, kami seakan baru tersadarkan bahwa kami sedang di panti asuhan. Gedung ini belum punya fasilitas yang layak. Penerangan yang hampir tidak ada, hanya ada beberapa buah lampu, remang-remang. Ruangan tidur bagi 60 santri itu hanya dilengkapi beberapa helai kasur, lebih banyak yang tidur di lantai, itu pun tak dengan alas, langsung bertemu lantai. Ruangan itu sangat besar sekali, tak ada banyak sekat, semua seakan tidur di satu ruangan yang sangat besar, seperti bangsal. Kalaupun ada sekat, hanya menggunakan triplek yang sudah rapuh termakan rayap. Ruangan juga agak bau dan apek karena  beberapa perabot yang sudah tua dan jarang dibersihkan.

Di ruangan itu, kami bertemu dengan sekitar 15-20 santri. Mulai dari kelas 1 sd sampai SMA. Mereka semua malu-malu, ragu untuk menjabat, tapi sekali menjabat, tangan kami diciumi, sungguh tanda hormat. Kulit mereka hitam, legam, rambut disisir apa adanya, pakaian juga sudah kusam dan lusuh. Sepatu di taruh sembarangan, tak peduli siapa yang akan tidur di sana nanti malam.

 

to be continued…

Advertisements

3 thoughts on “POTRET KOTA JAKARTA YANG IRONIS “Pembelajaran dari Hujan dan Kaum Marjinal” Part Two

  1. freddy says:

    so. inspiring. can.t wait for the third epiSode

  2. bluetakoyaki says:

    betapa ironis nya kesenjangan sosial ini…
    belum lagi ditambah dengan bencana-bencana alam yang terjadi beberapa akhir2 ini,,
    sudah saat nya kita bersatu, berdoa, dan bertindak…
    ~(teriring doa bagi Indonesia)~

  3. wins says:

    Bagus banget tu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s