POTRET KOTA JAKARTA YANG IRONIS “Pembelajaran dari Hujan dan Kaum Marjinal” Part One

Jakarta basah kuyup hari itu. Matahari pukul 12 pun tak terasa, tak terik, tak menusuk tulang, dan tak menyayat kulit seperti biasanya. Jakarta yang berbeda dan tak wajar. Ahh tentu saja..saya baru menyadari maksud dari keanehan ini. Hari itu bulan Oktober, masih minggu pertama pula. Kalau menurut pelajaran di masa kecil dulu, Oktober adalah bulan pertama dari musim penghujan di bumi pertiwi, Indonesia. Ternyata masih berlaku perhitungan itu, Oktober sampai April adalah musim hujan. Setelah isu pemanasan global dikumandangkan di segala penjuru dunia, setelah perubahan iklim terjadi di seluruh dunia, nyatanya Oktober tahun ini tetap di awali dengan hujan, yang bagi saya memberikan keindahan dan kenikmatan tersendiri.

Di hari itu, seakan gaya gravitasi bekerja lebih kuat dari biasanya, menarik awan-awan untuk berkumpul, membentuk gumpalan-gumpalan hitam yang pergerakannya menciptakan energi-energi listrik di langit sana. Petir dan Guntur bersahut-sahutan, menabuh gendang-gendang raksasa yang suaranya sampai ke permukaan tanah, menyalakan kilatan-kilatan terang penuh energi listrik, menambah agungnya potret musim hujan dan sekaligus mengejutkan segenap makhluk di bawahnya. Awan-awan hitam yang merupakan kumpulan uap-uap air terkondensasi, sekalipun mereka telah menjelajah angkasa, mengitari bumi, uap-uap itu harus tetap kembali lagi jatuh ke bumi. Satu persatu titik-titik air itu harus meninggalkan tahtanya di atas sana, bersiap-siap meluncur ribuan kilometer dari atas ke bawah, sesekali meliuk-liuk terbawa angin kencang. Ada yang menghujam aspal jalanan, lalu terpecah dan mengalir kemanapun dia menemukan jalan. Ada yang jatuh di atas genting rumah atau di daun-daun dan dahan untuk meluncur turun ke atas tanah, yang tetesan-tetesannya terlihat indah, seperti permata. Ada yang jatuh tepat di atas genangan air dan membentuk pusaran-pusaran kecil lalu bergelombang semakin besar dan mencari tepinya.

Hari itu hari Minggu, 3 Oktober 2010, dua mahasiswa telah bersepakat, berjanji untuk bertemu dan melakukan hal yang tak biasa mereka lakukan. Dua dari beribu-ribu mahasiswa di Universitas yang mengusung nama negeri Indonesia. Dua orang dari 80an mahasiswa yang mengambil mata kuliah tentang Etika di fakultas teknik dengan Bapak Raldi sebagai dosen mereka. Dua orang itu adalah saya sendiri, Valent dan teman saya, Martin. Keberuntungan telah mengelompokkan saya dan Martin yang memiliki rumah berdekatan untuk berada dalam kelompok yang sama dalam mengerjakan suatu hal yang sudah jarang kami lakukan. Hal itu sebenarnya biasa saja, yaitu mengerjakan tugas, tapi tugasnya unik, seunik dosen yang memberikan, yaitu berkunjung ke tempat-tempat di mana kaum marjinal tidak dimarjinalisasikan. Tempat-tempat di mana mereka yang tersingkir dan yang dipandang sebelah mata, mendapatkan penghargaan dari orang-orang yang punya hati mulia.

Melalui berbagai pertimbangan dan pemikiran, kami memilih kunjungan ke panti asuhan anak-anak. Karena di sanalah kami bisa mengeksplor lebih banyak hal, lebih leluasa untuk bertanya dan mencari informasi tanpa harus dicurigai.

“Mereka masih anak-anak, masih polos, jadi kita bisa bertanya apa saja”, kata saya.

“Ahh benar juga, kita mungkin hanya perlu menyiapkan sedikit souvenir, sekedar coklat atau permen”, Martin menyetujui.

Dengan tempat tinggal yang berdekatan, mudah bagi kami untuk menentukan panti mana yang harus kami kunjungi. Ya, di mana lagi kalau tidak mencari panti terdekat, yaitu di kawasan Kebon Jeruk? Menggunakan fasilitas internet, tanya Google, dan kami menemukan satu panti asuhan yang sangat menarik, Panti Asuhan Assurur namanya. Panti ini sekaligus merupakan pesantren, jadi pengajarannya sangat sarat dengan Islam. Letak panti Assurur tak begitu jauh dari tempat kami tinggal, tapi kami sempat beberapa kali tersasar. Gedung ini memang agak terpencil dan tersembunyi di tengah-tengah padatnya pemukiman penduduk. Sungguh menyedihkan. Anak-anak marjinal dan tinggal di tempat yang terpinggirkan. Anak-anak yang dipandang sebelah mata dan tinggal di tempat yang tak terlihat. Ahh…agak tersayat hati saya.

 

to be continued…

One thought on “POTRET KOTA JAKARTA YANG IRONIS “Pembelajaran dari Hujan dan Kaum Marjinal” Part One

  1. bluetakoyaki says:

    we want more!!! xDD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s